membaca berimbang di perpustakaan sekolah

Apa Itu Membaca Berimbang? Dari Literasi Berimbang hingga Masa Depannya

Ketika mendengar istilah Membaca Berimbang, mungkin yang muncul adalah pertanyaan sederhana: apa sebenarnya yang dimaksud dengan membaca berimbang?

Apakah anak harus belajar phonics, membaca bersama, membaca terbimbing, dan membaca mandiri dalam jumlah yang sama?

Tidak sesederhana itu.

Membaca Berimbang lebih tepat dipahami sebagai pendekatan yang berusaha memberikan berbagai jenis dukungan yang dibutuhkan anak untuk berkembang sebagai pembaca. Anak perlu belajar mengenali kata, tetapi juga perlu memahami makna. Mereka perlu mendapatkan pengajaran yang terstruktur, tetapi juga membutuhkan kesempatan membaca buku yang menarik.

Istilah ini sendiri memiliki sejarah. Untuk memahaminya, kita perlu melihat terlebih dahulu gagasan yang lebih luas di belakangnya: Literasi Berimbang atau balanced literacy.

Dari “Reading Wars” menuju Balanced Literacy

Perdebatan tentang cara terbaik mengajarkan membaca sebenarnya sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Pada satu sisi terdapat pendekatan yang menekankan hubungan antara huruf dan bunyi, termasuk phonics. Pada sisi lain terdapat pendekatan yang lebih menekankan bahasa, cerita, konteks, dan makna.

Pada akhir abad ke-20, perdebatan ini semakin dikenal sebagai reading wars. Perdebatan tersebut sering digambarkan sebagai pertentangan antara pendekatan whole language dan pendekatan yang lebih berorientasi pada keterampilan membaca seperti phonics.

Masalahnya, pembelajaran membaca ternyata tidak mudah dimasukkan ke dalam dua kotak tersebut.

Anak memang perlu memahami bagaimana tulisan berhubungan dengan bunyi. Tetapi mereka juga perlu memahami bahasa yang dibaca. Mereka membutuhkan kemampuan menguraikan kata, tetapi kemampuan tersebut tidak otomatis membuat mereka memahami isi cerita.

Dari sinilah gagasan balanced literacy mendapatkan perhatian.

Istilah balanced literacy dipopulerkan pada pertengahan 1990-an untuk menggambarkan upaya mencari titik temu antara unsur-unsur whole language dan pengajaran keterampilan membaca secara lebih eksplisit. Sage Journals

Namun ada satu hal penting yang sering dilupakan:

Balanced literacy bukanlah satu metode tunggal dengan definisi yang seragam.

Maknanya berkembang dan digunakan secara berbeda oleh berbagai pendidik dan program. Bahkan penelitian terhadap guru berpengalaman menunjukkan bahwa istilah tersebut menjadi semakin beragam maknanya dari waktu ke waktu.

Dari Balanced Literacy ke Literasi Berimbang

Gagasan tersebut kemudian berkembang dalam berbagai konteks pendidikan, termasuk Indonesia.

Di Indonesia dikenal istilah Literasi Berimbang. Konsepnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca kata, tetapi melihat literasi sebagai proses yang lebih luas: membaca, menulis, menyimak, berbicara, memahami teks, serta membangun kebiasaan membaca.

Dalam panduan Literasi Berimbang untuk sekolah dasar, misalnya, kegiatan literasi mencakup membaca nyaring, membaca bersama, membaca terbimbing dan menganalisis, membaca mandiri, bedah kata, serta berbagai bentuk kegiatan menulis.

Artinya, literasi tidak dipandang sebagai satu kegiatan sederhana.

Guru tidak hanya meminta anak:

“Silakan baca buku.”

Guru juga memberikan contoh bagaimana membaca, membantu ketika anak mengalami kesulitan, mengajarkan keterampilan tertentu, mengajak anak berbicara tentang teks, dan memberikan kesempatan untuk membaca secara mandiri.

Di sinilah muncul gagasan penting tentang keseimbangan.

Keseimbangan bukan berarti setiap kegiatan harus mendapatkan waktu yang sama.

Keseimbangan lebih berarti bahwa pembelajaran tidak bergantung pada satu cara saja.

Lalu, Apa Itu Membaca Berimbang?

Dalam konteks yang lebih khusus, Membaca Berimbang dapat dipahami sebagai adaptasi dari gagasan Literasi Berimbang dengan fokus yang lebih spesifik pada proses belajar membaca.

Jika Literasi Berimbang memiliki cakupan literasi yang luas, Membaca Berimbang memberikan perhatian lebih besar pada pertanyaan:

Apa saja yang dibutuhkan seorang anak untuk belajar membaca dengan baik?

Dalam program Membaca Berimbang yang dikembangkan di Indonesia, proses belajar membaca dipandang membutuhkan beberapa hal: motivasi membaca, pemahaman hubungan huruf dan bunyi, kemampuan menguraikan kata yang belum dikenal, kelancaran, strategi memahami teks, serta pengetahuan dan kosakata yang mendukung pemahaman.

Dari gagasan tersebut kemudian dikembangkan beberapa komponen pembelajaran.

Ada phonics untuk mengajarkan hubungan bunyi dan huruf secara sistematis.

Ada Membaca Interaktif, ketika guru menggunakan buku dan berinteraksi dengan siswa untuk membangun pemahaman.

Ada Membaca Bersama, ketika guru memodelkan proses membaca menggunakan teks yang dapat diikuti siswa.

Ada Membaca Terbimbing, ketika guru bekerja dengan kelompok kecil menggunakan buku bacaan yang sesuai dengan kemampuan membaca siswa.

Di samping itu terdapat lingkungan kelas yang mendukung budaya membaca.

Jadi, Membaca Berimbang bukan sekadar nama untuk satu teknik mengajar.

Ia merupakan sistem yang terdiri dari beberapa jenis pengalaman belajar membaca.

Baca juga: Membaca Berimbang: Catatan Kritis atas Desain dan Implementasi Program Literasi

Mengapa Anak Membutuhkan Banyak Jenis Dukungan?

Bayangkan seorang anak yang sudah hafal sebagian besar huruf tetapi masih kesulitan membaca kata baru.

Anak tersebut mungkin membutuhkan lebih banyak latihan phonics dan decoding.

Sekarang bayangkan anak lain yang sudah cukup lancar membaca kata, tetapi tidak memahami apa yang dibacanya.

Kebutuhannya berbeda.

Ia mungkin membutuhkan lebih banyak percakapan tentang teks, kosakata, pengetahuan latar, dan strategi memahami bacaan.

Ada pula anak yang sebenarnya sudah mampu membaca, tetapi jarang membaca karena tidak menemukan buku yang menarik.

Masalahnya bukan lagi sekadar decoding.

Ia membutuhkan pengalaman membaca yang bermakna.

Karena itu, membaca tidak bisa dipahami hanya sebagai kemampuan mengucapkan tulisan.

Seorang pembaca yang baik harus mampu bergerak dari:

melihat tulisan → mengenali kata → membaca dengan lancar → memahami bahasa → membangun makna.

Program Membaca Berimbang mencoba memberikan dukungan terhadap beberapa bagian dari proses tersebut.

Ketika Penelitian Membaca Terus Berkembang

Sejak gagasan balanced literacy berkembang, penelitian tentang membaca juga terus bertambah.

Salah satu perkembangan penting adalah semakin kuatnya perhatian terhadap pengajaran phonics secara sistematis, terutama dalam pembelajaran membaca awal.

Education Endowment Foundation, misalnya, menyimpulkan bahwa phonics memiliki basis bukti yang kuat dan sebaiknya diajarkan secara eksplisit dan sistematis. Namun phonics bukan keseluruhan pembelajaran membaca. Anak tetap membutuhkan vocabulary, pemahaman bahasa, kelancaran, dan comprehension. GOV.UK

Pandangan seperti ini sebenarnya menghasilkan sebuah kesimpulan yang cukup masuk akal:

Anak perlu diajarkan cara membaca kata, tetapi membaca bukan hanya soal membaca kata.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Anak membutuhkan decoding agar dapat membaca kata yang tertulis. Tetapi mereka membutuhkan bahasa dan pengetahuan agar kata-kata tersebut menjadi sesuatu yang bermakna.

Itulah sebabnya pembelajaran membaca yang baik tidak berhenti ketika anak sudah mampu mengeja kata.

Mengapa Balanced Literacy Kemudian Diperdebatkan Lagi?

Perkembangan penelitian tersebut kemudian memunculkan kritik terhadap sebagian praktik yang pernah ditempatkan di bawah payung balanced literacy.

Salah satu persoalannya adalah istilah balanced literacy sendiri terlalu luas.

Ketika satu sekolah mengatakan mereka menerapkan balanced literacy, sekolah lain belum tentu melakukan hal yang sama.

Ada yang memberikan pengajaran phonics secara eksplisit. Ada yang memberikan waktu besar untuk membaca mandiri. Ada yang menggunakan guided reading. Ada pula yang menggunakan berbagai strategi lain.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika mengatakan:

“Balanced literacy melakukan ini.”

Pertanyaan yang lebih tepat sering kali adalah:

“Praktik pembelajaran seperti apa yang sebenarnya dilakukan?”

Ini juga menjelaskan mengapa perdebatan tentang balanced literacy dan structured literacy masih berlangsung.

Sebuah penelitian eksploratif yang diterbitkan pada 2025, misalnya, menemukan perbedaan pola hasil antara literatur structured literacy dan balanced literacy, tetapi penulis juga menekankan keterbatasan definisi dan basis penelitian yang digunakan.

Jadi perkembangan penelitian tidak sesederhana mengganti satu label dengan label lainnya.

Lalu, Apakah Membaca Berimbang Sudah Ketinggalan Zaman?

Belum tentu.

Justru di sinilah kita perlu membedakan nama sebuah pendekatan dengan praktik pembelajaran yang ada di dalamnya.

Beberapa gagasan dalam Membaca Berimbang tetap sangat masuk akal.

Anak membutuhkan buku.

Anak membutuhkan guru yang membacakan cerita.

Anak membutuhkan kesempatan berbicara tentang apa yang dibacanya.

Anak membutuhkan pengajaran keterampilan membaca.

Anak membutuhkan kesempatan berlatih.

Dan anak yang mengalami kesulitan membutuhkan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Yang mungkin berubah adalah cara kita memahami proporsi, urutan, dan metode untuk mencapai tujuan tersebut.

Misalnya, jika penelitian menunjukkan bahwa seorang anak belum menguasai hubungan huruf dan bunyi, pengajaran yang lebih eksplisit dan sistematis menjadi penting.

Sebaliknya, ketika seorang anak sudah mampu melakukan decoding tetapi tidak memahami teks, menambah latihan phonics saja belum tentu menyelesaikan masalah.

Di sinilah assessment menjadi penting.

Masa Depan Membaca Berimbang

Mungkin masa depan Membaca Berimbang bukanlah mempertahankan semua bentuk praktiknya seperti sekarang.

Tetapi juga bukan berarti seluruh gagasan lama harus dibuang.

Pembelajaran membaca terus berkembang karena pengetahuan kita tentang proses membaca juga berkembang.

Pendekatan yang lebih kuat di masa depan kemungkinan akan semakin memperhatikan beberapa hal.

Pertama, keterampilan dasar perlu diajarkan secara jelas.

Anak yang belum menguasai decoding membutuhkan pengajaran yang sistematis, bukan sekadar lebih banyak kesempatan menebak kata dari konteks.

Kedua, bahasa dan pemahaman tetap penting.

Kemampuan membaca kata tidak sama dengan kemampuan memahami teks. Panduan membaca modern juga menempatkan phonics, fluency, comprehension, bahasa lisan, buku, dan budaya membaca sebagai bagian dari pembelajaran yang saling berhubungan.

Ketiga, assessment harus digunakan untuk mengambil keputusan.

Assessment seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:

“Anak ini berada di level berapa?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang perlu diajarkan kepada anak ini berikutnya?”

Keempat, guru perlu memahami prinsip, bukan sekadar mengikuti resep.

RPP, buku, dan modul dapat membantu guru. Tetapi tidak ada satu resep yang dapat sepenuhnya menggantikan pengamatan guru terhadap anak yang sedang duduk di hadapannya.

Berimbang Bukan Berarti Sama Rata

Mungkin inilah cara paling sederhana untuk memahami istilah Membaca Berimbang.

Berimbang bukan berarti semua metode digunakan dengan porsi yang sama.

Bukan pula berarti guru harus memasukkan sebanyak mungkin kegiatan ke dalam satu program.

Berimbang berarti memahami bahwa belajar membaca memiliki beberapa kebutuhan yang saling berhubungan.

Seorang anak mungkin membutuhkan phonics.

Anak lain mungkin membutuhkan latihan kelancaran.

Anak yang lain membutuhkan lebih banyak kosakata dan pengalaman memahami teks.

Ada anak yang membutuhkan bimbingan kelompok kecil.

Ada pula yang sebenarnya sudah siap membaca lebih mandiri.

Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah pendekatan seharusnya tidak hanya dilihat dari banyaknya metode yang digunakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah metode tersebut memberikan apa yang dibutuhkan anak untuk berkembang sebagai pembaca?

Penutup

Sejarah Membaca Berimbang menunjukkan bahwa cara mengajarkan membaca tidak pernah benar-benar berhenti berkembang.

Gagasan balanced literacy muncul antara lain dari usaha menjembatani perdebatan antara pendekatan yang menekankan makna dan pendekatan yang menekankan keterampilan membaca. Di Indonesia, gagasan tersebut berkembang dalam bentuk Literasi Berimbang, kemudian diadaptasi lebih khusus melalui Membaca Berimbang.

Hari ini, penelitian membaca memberikan pemahaman yang semakin kuat mengenai pentingnya pengajaran keterampilan dasar secara eksplisit, sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan membaca yang baik membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menguraikan kata.

Karena itu, mungkin masa depan Membaca Berimbang bukan tentang mempertahankan sebuah label.

Mungkin masa depannya justru terletak pada kemampuan untuk terus belajar, menyesuaikan praktik dengan bukti, dan tetap melihat anak sebagai pusat dari proses pembelajaran.

Pada akhirnya, membaca bukan hanya tentang membuat anak mampu mengucapkan tulisan.

Tujuannya adalah membantu mereka menjadi pembaca yang mampu memahami, berpikir, dan menemukan makna dari apa yang mereka baca.

R

Referensi

Sumber yang digunakan untuk memahami konsep dan perkembangan Membaca Berimbang.

  1. 01
    Veteran Teachers’ Understanding of “Balanced Literacy” Fisher, D., Frey, N., & Lapp, D. — Journal of Education, 2023
  2. 02
    Seri Manual GLS: Literasi Berimbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
  3. 03
    Membaca Berimbang: 6 Elemen Program Yayasan Literasi Anak Indonesia
  4. 04
    The Reading Framework: Teaching the Foundations of Literacy Department for Education, United Kingdom
  5. 05
    From a ‘Great Debate’ to a Full-Scale War: Dispute Over Teaching Reading Heats Up Education Week — Historical context of the reading wars

Tinggalkan komentar

Komentar Anda akan muncul setelah moderasi.

0 / 1000

Written by

Gin

11 Posts

Pengajar serabutan, pecinta kopi dan tanaman.
View all posts