Ketika Paket Pembelajaran Berhenti Belajar: Studi Kasus Foniku
Produk pendidikan tidak seharusnya berhenti berkembang setelah selesai dibuat.
Sebuah paket pembelajaran mungkin telah memiliki buku panduan, media, lagu, kartu, poster, RPP, bahkan alur pembelajaran yang sangat rinci. Namun kelengkapan produk belum otomatis menunjukkan bahwa desainnya sudah optimal untuk semua kondisi kelas.
Saya pernah terlibat dalam implementasi sebuah program literasi sebagai petugas lapangan. Karena itu, tulisan ini bukan evaluasi resmi organisasi dan bukan pula representasi pandangan organisasi tersebut. Ini adalah refleksi pribadi berdasarkan pengalaman implementasi, dokumen program, dan literatur penelitian.
Salah satu bagian program yang menarik untuk dibicarakan adalah Foniku, sebuah paket pembelajaran fonik Bahasa Indonesia yang dikembangkan oleh Yayasan Literasi Anak Indonesia. Dari informasi produk yang tersedia untuk publik, Foniku bukan sekadar kumpulan kartu huruf. Paket ini terdiri atas buku poster cerita, video lagu bunyi huruf, buku bunyi huruf, kartu huruf, poster, buku panduan guru, dan bahan latihan siswa. Programnya direkomendasikan berlangsung selama 14 minggu, dimulai dari bunyi vokal kemudian dilanjutkan dengan konsonan.
Dengan kata lain, Foniku memang dirancang sebagai sebuah sistem pembelajaran fonik, bukan sekadar alat bantu mengenalkan alfabet.
Dan justru karena itulah pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi “Apakah Foniku menggunakan fonik?”
Jawabannya jelas: ya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Bagaimana kita tahu bahwa sistem pembelajaran tersebut merupakan desain yang paling efektif dan efisien untuk anak Indonesia?
Bukti untuk fonik tidak otomatis menjadi bukti untuk sebuah produk
Fonik sendiri memiliki dasar penelitian yang cukup kuat. Pengajaran fonik yang sistematis dapat membantu anak mengembangkan kemampuan membaca kata, terutama ketika pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan awal anak dan kemajuannya dipantau secara berkala.
Tetapi ada perbedaan antara bukti terhadap suatu prinsip pembelajaran dan bukti terhadap sebuah produk yang menggunakan prinsip tersebut.
Misalnya, kita mengetahui bahwa latihan fisik bermanfaat bagi kesehatan. Hal itu tidak berarti setiap program olahraga yang dibuat otomatis efektif.
Demikian pula dengan fonik.
Bahwa fonik merupakan pendekatan yang didukung penelitian tidak otomatis berarti setiap urutan huruf, setiap lagu, setiap aktivitas, setiap durasi, dan setiap paket fonik akan menghasilkan hasil yang sama.
Di sinilah pengembangan sebuah produk pendidikan menjadi penting.
Pertanyaan tentang desain
Dalam praktiknya, Foniku memiliki banyak aktivitas: mengenalkan bunyi, menggunakan cerita, lagu dan gerakan, kartu huruf, buku bunyi huruf, blending, membaca suku kata dan kata, serta latihan menulis. Materi publik produk juga menyebutkan adanya alur pembelajaran selama 14 minggu.
Secara pedagogis, berbagai aktivitas tersebut dapat memiliki fungsi masing-masing.
Tetapi dari pengalaman implementasi di kelas, saya melihat pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Apakah seluruh rangkaian aktivitas tersebut menggunakan waktu pembelajaran secara optimal?
Dalam program yang saya dampingi, satu fokus pembelajaran dapat membutuhkan beberapa kali pertemuan. Guru juga harus mengikuti langkah-langkah yang telah ditentukan.
Masalahnya, anak-anak tidak datang ke kelas dengan kemampuan yang sama.
Ada anak yang baru mengenal huruf. Ada yang sudah mengenali sebagian besar bunyi. Ada yang sudah dapat membaca kata sederhana. Bahkan ada yang sudah membaca dengan cukup lancar.
Jika semua anak mengikuti jalur pembelajaran yang sama dengan tempo yang sama, maka muncul pertanyaan tentang diferensiasi.
Mungkin desain tersebut memang memiliki alasan pedagogis yang kuat. Tetapi alasan tersebut seharusnya dapat dijelaskan, diuji, dan—jika diperlukan—direvisi berdasarkan pengalaman penggunaan di kelas.
Produk pendidikan seharusnya belajar dari kelas
Dalam pengembangan intervensi pendidikan, pengalaman guru dan peserta didik bukan sekadar persoalan implementasi. Pengalaman tersebut juga merupakan sumber informasi untuk memperbaiki desain.
Education Endowment Foundation, misalnya, menjelaskan pengembangan program pendidikan sebagai proses yang dapat melibatkan desain, uji coba dalam skala kecil, pengumpulan umpan balik dari sekolah, penyempurnaan program, kemudian dilanjutkan ke tahap evaluasi berikutnya.
IES di Amerika Serikat juga menggunakan gagasan iterative development: intervensi diterapkan, diamati, kemudian diperbaiki berdasarkan informasi yang diperoleh. Proses tersebut digunakan untuk melihat apakah sebuah intervensi dapat digunakan secara layak dalam kondisi pendidikan yang nyata.
Artinya, ketika guru mengatakan suatu aktivitas membutuhkan terlalu banyak waktu, ketika satu langkah sulit diterapkan di kelas besar, atau ketika anak dengan kemampuan berbeda membutuhkan jalur pembelajaran yang berbeda, informasi tersebut seharusnya tidak langsung dianggap sebagai masalah guru.
Bisa jadi itu adalah data pengembangan produk.
Guru bukan hanya pengguna.
Guru juga dapat menjadi sumber informasi penting tentang bagaimana sebuah desain bekerja di dunia nyata.
Produk pendidikan bukan kitab
Ada bahaya ketika sebuah paket pembelajaran yang sudah dibuat dengan sangat lengkap kemudian diperlakukan seolah-olah seluruh komponennya sudah final.
RPP menjadi sesuatu yang harus diikuti.
Urutan menjadi sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan.
Aktivitas menjadi sesuatu yang harus dilakukan karena sudah tertulis dalam buku panduan.
Padahal penelitian pendidikan tidak bekerja seperti itu.
Bahkan produk yang telah memiliki dasar teori dan bukti awal tetap dapat membutuhkan penyempurnaan ketika diterapkan pada populasi, sekolah, guru, atau konteks yang berbeda.
Karena itu, menurut saya, pertanyaan terhadap sebuah produk pendidikan seharusnya bukan hanya:
“Apakah produk ini sudah dibuat?”
Tetapi juga:
“Apakah produk ini masih terus belajar?”
Kritik bukan berarti menjatuhkan
Saya tidak menganggap pertanyaan seperti ini sebagai upaya untuk menjatuhkan Foniku atau pihak yang mengembangkannya.
Justru sebaliknya.
Jika sebuah produk pendidikan digunakan oleh banyak guru dan anak, maka semakin penting untuk memastikan bahwa pengalaman mereka dapat kembali masuk ke dalam proses pengembangan.
Kritik terhadap sebuah program tidak harus menjadi kritik terhadap orang-orang yang menjalankannya.
Dan kritik terhadap sebuah produk tidak harus berarti produk tersebut tidak berguna.
Produk yang baik pun masih dapat diperbaiki.
Bagi saya, inilah prinsip yang paling penting: produk pendidikan bukan kitab. Ia adalah intervensi yang seharusnya terus diuji, dipelajari, dan dikembangkan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah sebuah paket pembelajaran terlihat lengkap.
Pertanyaannya adalah apakah setiap bagian dari paket tersebut benar-benar membantu anak belajar—dengan waktu yang masuk akal, sesuai kemampuan mereka, dan berdasarkan bukti yang terus diperbarui.
Dan mungkin, ukuran kedewasaan sebuah produk pendidikan bukan terletak pada seberapa kuat ia dipertahankan, tetapi pada seberapa terbuka ia untuk diperbaiki.
Baca juga: Membaca Berimbang: Catatan Kritis atas Desain dan Implementasi Program Literasi
Referensi
Sumber yang digunakan untuk memahami Foniku, pembelajaran fonik, dan pengembangan intervensi pendidikan.
-
01Foniku Hadju Smart Sinarindo — Informasi produk dan komponen program Foniku
-
02Phonics Education Endowment Foundation — Evidence on phonics instruction
-
03Early Stage Programme Development Education Endowment Foundation — Pengembangan, uji coba, umpan balik, dan penyempurnaan program pendidikan
-
04Common Guidelines for Education Research and Development Institute of Education Sciences — Kerangka penelitian dan pengembangan intervensi pendidikan

Tinggalkan komentar
Komentar Anda akan muncul setelah moderasi.