Pengalaman Menggunakan Pemborong Bangunan di Bali: Dari Awal hingga Bermasalah
Berawal dari rencana kami merenovasi bangunan lama yang berlokasi di Tabanan. Bangunan tersebut akan dijadikan kios berukuran kurang dari 36 m². Karena tinggal dan bekerja di Denpasar, kami berencana menggunakan jasa pemborong bangunan di Bali. Kami minim pengetahuan dan pengalaman tentang bangunan. Bisa dikatakan, ini merupakan impian pertama kami untuk memiliki kios kecil di depan rumah.
Mencari Pemborong di Media Sosial
Karena minim referensi, kami memutuskan mencari pemborong bangunan melalui media sosial. Kami melakukan survei harga borongan melalui group Facebook. Hanya dalam waktu 2 jam, sudah lebih dari 10 orang yang menghubungi kami. Bahkan, ada yang memberikan proposal penawaran yang detail. Nilai penawaran bervariasi dari Rp1.800.000–Rp3.300.000/m².
Kami berasumsi desain bangunan kios sederhana (tanpa kusen, pintu, dan jendela), sehingga harga borongan seharusnya tidak sebesar harga borongan bangunan rumah tinggal. Maka, kami memilih pemborong lokal yang menawarkan harga relatif murah, sekitar Rp2 jutaan/m².
Proses Deal dan Pembuatan Perjanjian
Di akhir September 2021, pemborong datang bersama istri untuk melakukan survei ke bangunan lama yang akan dibongkar menjadi kios. Kami diyakinkan bahwa dengan harga tersebut, bangunan sudah berdiri dan kami tinggal menerima kunci. Apalagi, hal tersebut diperkuat dengan adanya perjanjian kerja dan fakta bahwa si pemborong adalah warga asli Bali. Tentunya, kami tidak takut jika suatu saat bermasalah karena dia tidak akan kabur ke luar pulau.

Oknum pemborong (Anak Agung Gede Sila Darma) asal Desa Kelusa, Payangan, Gianyar. Foto ini saya ambil atas permintaan yang bersangkutan. Mungkin untuk meyakinkan kami bahwa dia adalah pemborong yang bertanggung jawab dan berintegritas.
Tahap Pembangunan Struktur
Pengerjaan dimulai pada 9 Oktober 2021, setelah upacara Ngeruak dan Nasarin. Pengerjaan menggunakan 2 tukang dan 2 peladen. Jadi, total ada 4 pekerja yang digunakan. Dari awal sampai proses pengecoran dak, hanya membutuhkan waktu kurang dari 17 hari.

Progress kerja saat tahap struktur melebihi ekspektasi kami.
Pengerjaan ini sesuai target sehingga sebelum hari Sugihan pada 5 November 2021, kami sudah bisa mengadakan upacara Memakuh. Di titik ini, kami semakin percaya dengan si pemborong. Tanpa banyak pertimbangan, kami telah mentransfer dana melebihi progress kerja.
Mulai Banyak Alasan dan Sulit Dihubungi
Pengerjaan dimulai kembali setelah libur Galungan sampai akhir November 2021. Pada periode ini, banyak mengalami masalah teknis, seperti beberapa tukang dan peladen yang sakit serta curah hujan yang tinggi, sehingga baru bisa menyelesaikan plesteran dinding bagian dalam dan tangga.
Ketika libur Galungan, saat tidak ada angin atau hujan, si pemborong meminta transfer lagi untuk melanjutkan pekerjaan. Jika tidak transfer, pengerjaan akan terhambat dengan alasan banyak tukang yang kasbon.
Kami mulai berhati-hati dan tidak mentransfer lebih dari Rp5 juta. Makin lama, jumlah pekerja makin sedikit, hanya melibatkan 2 tukang. Setelah kami amati, ternyata salah satu tukang yang digunakan tidak kompeten. Kami mulai bertanya, ke mana tukang yang lain? Si pemborong pun jarang datang ke proyek. Tukang kesulitan bekerja karena material belum ada.
Bulan Desember 2021 bisa dibilang hampir tidak ada progress. Kami sudah menghubungi dan memberikan peringatan kepada si pemborong untuk melaksanakan komitmennya sesuai perjanjian. Akhirnya, WA dibalas dan dia memohon maaf karena terkendala tukang. Proyek dimulai kembali meski hanya 4 hari sampai akhir Desember 2021.
Awal Januari 2022, si pemborong mengatakan akan datang dengan instalatir, tetapi tidak kunjung datang dan tidak membalas pesan selama hampir 3 minggu.
Penyelesaian Pekerjaan Borongan
Akhirnya, pesan WA dibalas pada 20 Januari 2022 dan mulai bekerja dengan 1 tukang dan 1 peladen pada esok harinya. Si oknum pemborong juga menambahkan material pasir halus. Kembali, dia meminta pelunasan dan berjanji akan menyelesaikan pekerjaan sesuai perjanjian.
Tentu saja, kami menolak untuk transfer dan meminta bertemu di lokasi proyek pada 24 Januari 2022. Pada saat bertemu, baru kami melakukan transfer lagi. Pada titik ini, kami sudah mentransfer lebih dari 90%. Jadi, hanya tersisa dana 10% untuk proses finishing. Ternyata, ada fakta baru yang membuat kami geleng-geleng kepala.
- Pertama, gaji tukang pada bulan Desember belum dibayar, sekitar Rp1.200.000.
- Kedua, si pemborong masih menunggak di toko bangunan dekat rumah, hampir Rp2 juta.
- Ketiga, selama bulan Desember sampai awal Januari, tukang dialihkan ke proyek lain dan bukan karena sakit.
Tiba pada tanggal 24 Januari, si oknum pemborong datang sekitar jam 5 sore (mungkin untuk menghindari tagihan dari toko bangunan). Saya menanyakan kembali komitmennya dan bagaimana solusi untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Jawaban dan perhitungannya sangat tidak masuk akal. Salah satunya, dia akan menggunakan dana dari proyek selanjutnya untuk menutupi kekurangan.
Tapi sampai kapan?
Sehingga, saya memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan ini. Kami masih memberikan tenggat 30 hari untuk penyelesaian rolling door. Jika lewat tenggat waktu ini, kami akan menyebarkan datanya di media sosial.
30 Hari Kemudian
Saya menandai si pemborong melalui Facebook dan tidak ada respons. WA kembali tidak dibalas. Tiga hari kemudian, kami memposting data dan kronologinya di medsos. Hasilnya, pada hari yang sama dia membalas WA. Tetapi beberapa hari setelahnya, akun Facebook-nya menghilang. Foto profilnya di WA pun menghilang. Entah nomor WA saya diblokir atau bagaimana. Kami sudah tidak peduli.

Pesan terakhir setelah data disebarkan pada grup Facebook. Si oknum pemborong juga menyindir saya karena telah membuat postingan di Facebook.
Kesimpulan
Ini merupakan pengalaman berharga bagi kami, karena ini adalah pertama kalinya kami membangun dengan menggunakan jasa pemborong. Kami mengamati bagaimana teknis kerja tukang dan berbagai kendala yang menyebabkan biaya pengerjaan membengkak. Berikut kesimpulan kami:
- Jangan pernah percaya sepenuhnya kepada orang lain, meskipun sebelumnya track record-nya baik.
- Pemborong asli Bali dan luar sama saja, yang bermasalah adalah oknum.
- Pilih tawaran harga terbaik yang lengkap dengan detail pengerjaannya.
- Hormati perjanjian, jangan membayar lebih dari progress kerja.
Demikianlah pengalaman kami membangun dengan jasa pemborong bangunan/rumah di Bali. Semoga pengalaman kami ini bermanfaat.

Tinggalkan komentar
Komentar Anda akan muncul setelah moderasi.